> > Inilah Penyebab Orang Menjadi Atheis

Inilah Penyebab Orang Menjadi Atheis

Posted on Friday, May 3, 2013 | No Comments


atheis


Atheisme merupakan paham yang populer di Barat yang diadopsi tidak sedikit orang di negeri  ini. Meski setiap orang memiliki penyebab yang berbeda hingga mereka memilih jalan untuk menjadi atheis, tapi secara garis besar mereka berawal dari dua penyebab: faktor traumatik dan faktor kekeliruan logika.

Faktor traumatik bisa ditemui pada kehidupan mereka di masa lampau yang dinilai tragis, menyedihkan dan terpuruk, membuat mereka cepat menyimpulkan bahwa Tuhan tidak adil dalam kehidupan manusia. Akhirnya yang muncul adalah kebencian terhadap Tuhan. Lalu berkembang pada ketidakpercayaan akan adanya peran Tuhan dalam kehidupannya.

Dua tahun yang lalu, saya pernah ‘ditarik’ masuk kedalam sebuah grup facebook yang berisi orang-orang atheis. Agaknya waktu itu seorang teman facebook saya menginginkan saya berdebat dengan orang-orang atheis itu demi membela agama. Tadinya saya tertarik, tapi setelah mengamati alasan-alasan mereka ber-atheis ria rata-rata karena faktor traumatik. Meski mereka sering memaki-maki Tuhan dalam berbagai comment dan status mereka di dalam grup itu, justru itu membuat saya mereka kasihan. Kemudian saya memilih leave group, karena menasehati mereka melalui media sosial semacam itu juga tidak akan memberikan progres keimanan apapun.

Faktor traumatik, bisa juga berawal dari lemahnya iman seseorang sehingga melihat Tuhan hanya sebagai pihak yang membatasi, mengungkung, memenjarakan dirinya dengan beragam aturan-aturan dalam kitab sucinya. Tidak heran jika di Barat yang trauma terhadap agama Kristen mereka cenderung memilih untuk menjadi atheis. Mungkin disebabkan oleh tradisi beragama Kristen yang hanya berisi doktrin-doktrin teologis, namun tidak didukung dengan keshahihan dalil yang dapat menjelaskan alasannya. Alasan semacam ini juga yang dialami oleh Karl Marx semasa hidupnya. Ketika dia melihat ketidak-adilan sosial di masyarakat, hatinya protes karena ternyata agama (baca: Kristen) tidak mampu memberi solusi apapun.

Selain faktor traumatik, faktor kekeliruan logika juga dapat menggiring seseorang menjadi atheis. Membuat pertanyaan-pertanyaan aneh dan bodoh seperti “Jika Tuhan itu bisa segalanya, maka bisakah Dia menciptakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya hingga Dia sendiri tidak mampu mengangkat?”. Atau logika bodoh seperti “Jika Tuhan-lah yang mematikan dan menghidupkan saya, maka kalau dalam 15 detik ini saya ingin mati dan ternyata tidak mati juga, berarti Tuhan memang tidak ada.”

Logika-logika macam itu sebenarnya logika yang lucu. Saya sendiri lebih memilih tersenyum saja daripada meladeni orang-orang atheis yang bertanya semacam itu. Karena pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang salah sejak awal. Jika pertanyaannya saja sudah salah, apalagi nanti menjawabnya? Jika kita menanggapi atheis semacam itu, berarti sama halnya kita menanggapi orang gila secara serius.

Kita wajib waspada dengan penyebaran pemikiran atheis pada anak-cucu kita. Satu-satunya jalan adalah menanamkan akidah kepada anak-cucu kita secara benar dan mantab sedini mungkin. Agar suatu hari nanti mereka melalui masa-masa sulit, labil dan kritis, mereka tetap bisa memiliki positive thinking kepada Allah Swt sebagai Tuhannya. Tidak malah berbalik memusuhi dan mendustakan Rabb yang sudah menciptakan dan memberinya kehidupan selama ini.[]

SUMBER

Leave a Reply

Powered by Blogger.