> | > Memberi Salam Kepada Non Muslim

Memberi Salam Kepada Non Muslim

Posted on Monday, October 29, 2012 | No Comments

HUKUM MEMBERI SALAM KEPADA NON MUSLIM


A. HUKUM MEMULAKAN SALAM KEPADA NON MUSLIM

Ada 2 pendapat dalam memulakan ucapan salam kepada non muslim itu, yaitu :
  1. Diperbolehkan
  2. Tidak diperbolehkan


1). PENDAPAT YG MEMPERBOLEHKAN

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27)} [النور : 27]

Wahai orang-orang yang telah beriman, janganlah memasuki rumah-rumah selain dari rumah kamu, sehingga kamu meminta izin dahulu dan memberi salam kepada penghuninya; itu lebih baik bagi kamu, mudah-mudahan kamu mengingat.” (Quran 24:27)

{وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ (88) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (89)} [الزخرف : 88 - 89]

Dan (Dialah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepadaMu untuk mengadilinya)!

(Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman): “Jika demikian, maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka, dan katakanlah: ‘Selamat tingallah!’ Kemudian mereka akan mengetahui kelak (akibat keingkarannya)

- Melihat kepada ketiadaan larangan khusus dalam masalah ini sebagai dalil mengharuskannya.
- Menerima lafaz umum al-Quran, yang meminta umatnya bercakap dengan perkataan yang baik


BERDASARKAN HADIS NABI SAW YAITU:

"Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

"Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu”(HR. Muslim)

Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya seseorang itu akan mendapat balasan sesuai apa yang telah diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

KOMENTAR PARA ULAMA

  1. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
  2. Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non muslim. Di anataranya Ibnu Mas,ud,Hasan Al Basri, Nakahei, dan Umar Abdul Aziz.
  3. Ibnu Hajar Al-asqalani menyebutkan di dalam kitabnya FathulBari bahawa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
  4. Abu Umamah berkata: Sesunguhnya Allah Taala menjadikan salam ini adalah untuk tahiyah(sambutan) kepada kita dan keamanan kepada orang bukan Islam(zimmi).
  5. Imam Al Qaradawi telah membincangkan perkara ini di dalam kitabnya yang bernilai Fikh Jihad
  6. Begitu juga dengan Professor Dr Saadudin Hilali di dalam kitabnya Huququl Insan secara jelas yang boleh melegakan hati kita.



Imam Al-Qaradawi menyatakan bahawa sekumpulan ulama salaf berpendapat bahawa harus memberi salam kepada orang bukan Islam. Mereka berhujjah dengan beberpa ayat Al-Quran:

1: {لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)} [الممتحنة : 8]

Terjemahan: Allah tidak melarang kamu kalian berbakti kepada mereka yang tidak memerangi dan tidak mengeluarkan kamu kalian daripada rumah-rumah kamu. Al- Mumtahanah ayat8.
Di antara melakukan kebaikan adalah memberi salam kepada mereka.

2: {قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (47)} [مريم : 47]

terjemahan: (kata-kata Nabi Ibrahim kepada ayahnya walaupun dia kafir)
Selamatlah ke atas kamu, aku akan meminta ampun kepada Tuhanku untuk kamu. Maryam ayat47.

3: {وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ (88) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (89)} [الزخرف : 88 - 89]

Dan (Dialah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepadaMu untuk mengadilinya)!

(Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman): “Jika demikian, maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka, dan katakanlah: ‘Selamat tingallah!’ Kemudian mereka akan mengetahui kelak (akibat keingkarannya),

WAJAH ISTIDLAL :
  1. Tiada larangan khusus dalam masalah ini , jadi sebahagian daripada Ulama' mengharuskannya
  2. Menerima lafaz umum al-Quran yang meminta umatnya bercakap dengan perkara yang baik



2). PENDAPAT YANG TIDAK MEMPERBOLEHKAN
BERDASARKAN HADITS NABI YAITU:

لا تبدأوا اليهود والنصارى بالسلام

"Janganlah kalian memulai kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam "
[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

KOMENTAR SYEIKH YUSUF AL-QARADAWI :
mengikut Imam Qaradawi,ia terbatas pada hari-hari peperangan sahaja. Ini kita boleh ketahui dengan meneliti keadaan hadis ini di mana Nabi ingin menuju ketempat yahudi, Nabi berkata “ Aku akan pergi menunggang esok menuju kegolongan yahudi,jangan mulakan mereka dengan salam”

Kalau kita perhatikan kata-kata Nabi, ini berlaku kerana Nabi ingin menghukum mereka kerana mengkhianati Nabi di dalam peperangan Azhab.

TEKS DALAM FIQAH INTERAKSI DENGAN NON-MUSLIM [ USTAZ MOHAMMAD NIZAM ABD KADIR – UIA]

- Namun pengharaman ini dibantahi dengan sebab wurud hadis [ sebab terbitnya hadis], iaitu kaitannya dengan Peperangan Bani Quraizah . Dalam peperangan itu, Yahudi Bani Quraizah telah mengkhianati Rasulullah dan Umat Islam. Ini bermakna sebelum peperangan tersebut, umat Islam telah mengamalkan budaya memberi salam kepada non-Muslim
[ halaman 22]

2- Surat Nabi kepada masyarakat Kuffar / non-Muslim ketika itu :

سلام على من اتبع الهدى

" Sejahteralah keatas mereka yang mengikuti petunjuk "

3- Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab :
Mendahului mengucapkan salam kepada orang non muslim adalah haram dan
tidak boleh. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata : “Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kamu bertemu mereka disuatu jalan, maka paksalah mereka kepada jalannya yang paling sempit.

Juga tidak boleh memulai ucapan: Ahlan wa sahlan atau ucapan lain yang senada kepada mereka. Sebab di dalam ucapan ini terkandung pemuliaan dan pengagungan terhadap mereka. Tetapi apabila mereka lebih dahulu menyampaikan tersebut kepada kita, maka kita dapat membalasnya seperti apa yang dikatakan kepada kita.

Sebab Islam datang dengan membawa keadilan dan memberikan haknya kepada setiap orang yang memang berhak. Dan, sebagaimana yang sudah diketahui, orang-orang muslim lebih tinggi kedudukan serta martabatnya di sisi Allah. Maka tak selayaknya mereka merendahkan diri kepada orang-orang non muslim, dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kesimpulan jawaban ini dapat saya katakan, “Orang muslim tidak boleh memulai ucapan salam kepada orang-orang non-Muslim. Sebab Nabi Shallallahu alaaihi wa sallam melarang hal itu, disamping hal itu merendahkan martabat orang muslim bila harus mengagungkan orang non-muslim.

Orang muslim lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah. Maka tidak selayaknya dia merendahkan diri dalam hal ini. Tetapi apabilamereka yang lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka kita boleh membalasnya seperti salam yang mereka ucapkan.

Kita juga tidak boleh lebih dulu memberi penghormatan kepada mereka, seperti ucapan ahlan wa sahlan wa marhaban (selamat datang), atau yang serupa dengan itu. Karena hal ini mengagungkan diri mereka seperti halnya salam.

(Sumber : Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatisy- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.)

KESIMPULAN 
Apapun pertikaian pendapat para Ulama', eloklah diambil jalan tengah. Suasana Nusantara & Malaysia, tidak menunjukkan lafaz Salam yang sama dengan Tanah Arab.
Adapun Salam dengan lafaz " Assalamua'laikum " biarlah khusus untuk orang Islam sahaja.
Namun, tidak menjadi masalah, jika kita bertegas untuk menggunakan lafaz ini ketika memberi salam kepada non-Muslim, kerana ia masih dalam ruang lingkup perbezaan pendapat para Ulama'.

Leave a Reply

Powered by Blogger.